Tipudaya Agroindustri Jarak
Sunday, August 13th, 2006[Note: Ini hanya kutipan 3 paragraf pertama dari artikel keseluruhan yang diterbitkan oleh Business News. Kalau ditelusuri di forum-forum luar negeri mengenai agroindustri jarak, sudah beberapa orang mengomentari mengenai kekurangan bibit unggul. Di Indonesia, Presiden telah mengeluarkan InPres Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain (efektif 25 Januari 2006). Menteri Pertanian dinyatakan pendorong "penyediaan tanaman bahan baku bahan bakar nabati (biofuel) termasuk benih dan bibitnya; melakukan penyuluhan pengembangan tanaman bahan baku bahan bakar nabati (biofuel)." Belum cek dengan Departemen Pertanian mengenai apakah mereka mempunyai stok. Setau yg gue denger sih ga ada.]
Business News 7397 / 7 Agustus 2006
5 Agustus 2006
TIPUDAYA AGROINDUSTRI JARAK
Bulan Maret silam, di rubrik ini pernah dimuat tulisan dengan judul: Hati-hati Terjun ke Agroindustri Jarak. Tetapi tulisan di sebuah buletin seperti ini, tentu sangat kecil dampaknya ke pembaca. Sebab tulisan di harian nasional dengan oplah 500,000 eksemplar pun, masih kalah dengan berita yang terus-menerus ditulis tentang kehebatan jarak. Rakyat, pengusaha, pejabat pemerintah dan media massa, semua terjangkiti demam bertanam jarak. Sebuah majalah prestisius, malahan telah mensponsori eksperimen perjalanan jarak jauh, dengan mobil berbahan bakar minyak jarak.
Ada dua kelompok promotor jarak. Pertama, mereka yang memang berniat tulis ingin mengatasi krisis BBM dengan bahan bakar alternatif, tetapi tidak terlalu menguasai permasalahan. Kedua, mereka yang sebenarnya hanya ingin memperoleh keuntungan finansial dari proyek jarak dari APBN, yang nilainya triliunan rupiah. Mereka ini cenderung hanya menonjolkan kehebatan jarak, tanpa sedikitpun menunjukkan titik lemahnya. Seorang warga negara Amerika Serikat, berkomentar tentang euforia komoditas jarak di Indonesia ini. "Anda merasa seakan-akan sedang menemukan Roda pada komoditas jarak! Padahal roda sudah ditemukan beberapa abad sebelum masehi."
Pihak yang demikian gencar mempromosikan jarak ini, sebenarnya sedang menipu pemerintah sekaligus rakyat. jarak Pagar (Jatropha curcas), sebenarnya juga pernah populer pada zaman Jepang. Tahun 1980-an, pernah terjadi pula demam bertanam jarak. Tetapi ketika itu, yang diperkenalkan ke masyrakat bukan jarak pager, melainkan jarak kepyar atau jarak kosta (Ricinus Communis). Komoditas yang jgua pernah dihebohkan dan kemudian terbukti menipu adalah pisang abaka, cacing, jangkrik, pace, dan lain-lain. Seperti halnya jarak, pisang abaka juga pernah menjadi proyek pemerintah pada akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an.